1


Hanya kata sepatah dua patah, selintas tak perlu ditanggap hati. Sungguhpun tak berarti bukan berarti tak berisi. Penting atau tidak toh terlanjur tertulis,tak salah juga sedikit dinikmati.

..

Purnama Tahun Baru

Kamis, 31 Desember 2009

apakah itu matamu, yang berpijar rindu
diliputi gemawan dan ombak cahaya di angkasa
mengadu riuh kesepianmu dengan
gempita sorak sorai dan jumpalitan kembang api di udara?

kau ada di sana seperti aku tak pernah menyadarinya
seperti aku tak pernah kehilanganmu
terus menempa diri dengan
kelanjutan waktu dan semua kesepian yang
abadi bahkan saat tahun-tahun manusia
mengembun dalam hitungan napas yang tak
tertahankan. duhai!

tergantung di cakrawala waktu yang abadi,
terkunci dalam kekosongan sunyi,
apakah yang membuatmu kelihatan begitu kesepian,
bahkan di tengan semua gelegak cahaya dan rona warna
yang berliukan di udara?

melihatmu tertahan dalam keindahan malam
selalu membuatku bertanya:
"siapa yang kau tunggu tahun ini?"
dinding-dinding bisu yang menemani fajar
yang terus sama tiap hari,
embun-embun beku yang menggoresi
semua hampa hati, atau mungkin
matahari yang tak mungkin kau temui?

ah... melayangkan mataku padamu
senantiasa membuatku sadar
betapa sering sudah kau temani malamku dengan
pilumu, hasrat bekumu yang terpaku selamanya
di samudera angkasa
yang senantiasa mengingatkan aku
pada rinduku yang hanya sanggup
membatu di puisi-puisiku...

selamat tahun baru bulanku, kekasihku selalu...



di komputer rumah yang habis di-upgrade
1 Januari 2010 pagi-pagi buta

World Bodypainting Festival

Sabtu, 26 Desember 2009

World Bodypainting Festival adalah festival yang diadakan tahunan dengan negara tuan rumah yang berbeda tiap tahunnya . Tahun 2008 lalu festival diadakan di Korea Selatan, sedangkan tahun 2010 di Austria. Di sinilah para seniman memamerkan kreasi mereka dan berkompetisi dengan seniman-seniman lain dari segenap penjuru dunia. Festival ini juga dimeriahkan dengan pertunjukan musik, koreografi, dan semua keindahan lain yang dapat dieksplorasi dari bodypainting. Seperti inilah kira-kira yang ada di sana.





















REFLEKSI LIVE IN SANGGAR AKAR 8-12 FEBRUARI 2009

Jumat, 25 Desember 2009

Waktu berlalu sebagaimana seharusnya ia berlalu. Demikian juga kehidupan manusia. Bergulir, lambat tetapi pasti, penuh hasrat dan pengalaman sarat. Kehidupan macam apa? Kehidupan yang diabaikan dunia, kehidupan yang diremehkan masyarakat, kehidupan yang luput dari pengawasan nilai moral. Kehidupan anak jalanan. Atau setidaknya itulah frase yang paling mudah ditangkap bagi para pendengar awam. Karena ‘jalanan’ yang saya maksudkan di sini lebih dari sekedar perempatan atau pertigaan lalu lintas. Jalanan yang di dalamnya merupakan saksi bisu kehidupan, juga kawan dan lawan bagi anak-anak yang mengais rejeki di dalam hitamnya keadaan.

Senin, 8 Februari 2009, saya berangkat mengemban tugas live in sosial di sanggar akar, suatu tempat yang merupakan sanggar penampungan bagi anak-anak jalanan. Adapun tempat ini adalah satu dari tiga tempat yang ditawarkan kepada kami. Seminaris kelas dua Seminari Wacana Bhakti berangkat dengan sebuah visi: melihat realitas. Juga mereka yang ditempatkan si Panti Asuhan Desa Putra dan Sanggar Rebung pastilah berpikir demikian. Saya, Saudara Iman dan Saudara Eno, menuju Sanggar Akar, tempat yang mereka bilang penuh pengalaman dan hal menarik dari sebuah realita.

Kira-kira sekitar pukul sebelas kami tiba di sana. Bangunan itu bentunya tidak mencolok, sebuah rumah besar bertingkat yang dibangin dari batu bata, tetapi tidak dilapisi lagi oleh lapisan semen pada temboknya. Jadi terkesan tidak maksimal dibangun. Minimalis. Saya kira yang mereka membangunnya lebih mengutamakan adanya atap dan ruangan yang fungsional. Soal tekstur dan lapisan tembok sepertinya tidak terlalu penting. Yang lucu adalah patung lebah besar yang ada di depan bangunan. Sepertinya ada makna tersendiri, tetapi saya tidak sempat tanya. Barangkali merefleksikan kerajinan dan ketekunan seekor lebah atau semacamnya.

Tanpa basa-basi kami hubungi contact person yang sudah disebutkan, Mas Arip. Dan olehnya kami diantarkan menuju kamar transisi yang akan kami pinjam empat hari ke depan. Di kamar itu kami dipersilakan beristirahat sembari menunggu pakde datang.

Pakde itu sebenarnya pria bernama Susilo siapa gitu. Hanya saja orang di sana akrab memanggilnya Pakde. Boleh dibilang ia ini adalah rektor sanggar akar. Dia dan para staff lainnya yang menjadi juru kemudi Sangar Akar.

Kami bertemu dengannya seusai makan siang. Lucunya ia malah tidak tahu maksud kedatangan kami. Wah, ada miskomunikasi rupanya. Setelah dijelaskan, ia setuju menampung kami di sana. Bahkan kami diizinkan mengamen atau memulung. Satu pesannya yang sangat menyentuh saya. “Jadilah imam yang tidak berjarak dengan realitas itu sendiri.” Menurut Pakde, ia tidak ingin live in ini menjadi sekedar live in saja, melainkan kami harus bisa menjadi imam yang paham sungguh situasi anak-anak ini. Kami haruslah tidak berjarak dengan realitas. Kami akan dan harus menyentuh realitas itu sendiri. Demikian saya bergumam dalam hati.

Inti dari hari pertama ini ada pada pribadi satu orang bernama Desboy. Yah, memang bukan nama sebenarnya sih. Ia bilang nama ini asli. Asli karangannya. Sebenarnya ia bernama Desi, tetapi karena ada dua Desi di sana, namanya kini berjulukan Desboy. Dan hal-hal yang ia ceritakan adalah pembukaan pada hari pertama ini.

Sekiranya malam pertama kami di sana telah diberikan ‘pengantar’ yang tidak biasa oleh Desboy. Ia bercerita pertama-tama mengenai latar belakangnya. Ia berasal dari keluarga dengan enam orang anak. Tinggal di daerah Tanah Merah, Plumpang. Masa kecilnya keras, dengan kehadiran orang tua yang meski sebenarnya baik, tetapi sangat ringan tangan menurut ceritanya. Kakak sulungnya adalah seorang puteri yang membawa nama baik keluarga. Pandai di sekolah dan memboyong banyak beasiswa yang menghantarkannya hingga selesai kuliah, meski keadaan rumah tangga kurang mapan. Namun sayang kehamilannya di luar nikah telah meredupkan bintang kehidupannya. Sejak saat itu kehidupan sang kakak harus puas sebagai ibu rumah tangga dari pemuda yang tidak jelas hidupnya, menurut Desboy. Dampak pada keluarga mereka, adalah diberlakukannya kembali peham lama bahwa perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, mereka hanya akan kembali ke dapur.

Muak dengan keadaan, Desboy lari dari rumah dan mulai merangkul kerasnya jalanan sebagai sahabatnya. Ia tingal di jalanan, bertahan hidup dengan mengamen, mencopet, mencuri besi bahkan tejun ke dalam perkelahian bila perlu. Dalam hal ini sikap ‘tomboy’ yang ada padanya membuatnya menjadi tahan banting dan disegani di antara para lelaki. Bahkan jalanan telah mengahntarkannya keluar-masuk lembaga-lembaga penampungan anak-anak jalanan. Keadaan ini berlangsung beberapa lama sampai ia menemukan Sanggar Akar sebagai rumahnya yang baru pada tahun 2004.

Seusai bercerita, ia mengantarkan kami pergi berkeliling daerah itu. Sembari mengantarkan kami ia bercerita banyak mengenai kehidupan anak-anak jalanan. Ada di antara mereka yang hancur dipukuli saat mencuri besi, ada yang tewas terlindas truk dan lain sebagainya. Saya tanyakan padanya perihal kehidupan agamanya. “Itu cuma KTP doang.” Saya terenyak. Tuhan seolah tidak mereka rasakan. Masuk akal kalau melihat hidup keras yang mereka jalani, di mana dunia memalingkan muka terhadap mereka. tapi apa benar demikian? Kami berjalan kembali dan Desboy melanjutkan cerita. Kami melewati beberapa anak yang kerah bajunya ditarik ke hidung mereka. “Mereka itu lagi pada ngelem. Yang ngajarin ya yang besar-besar.” Jadi menurut Desboy, ia telah membangun sebuah basis untuk menolong anak-anak jalanan di sebuah kontarakan bersama teman-teman (waktu itu) seminaris Wacana Bhakti angkatan 18. namun seiring berjalannya waktu anak-anak jalanan yang lebih tua mengambil alih atas yang muda, lalu kemudian menguasai kontrakan itu. Hal ini juga dipengaruhi dari teman-teman seminaris yang akhirnya tidak bisa mengurus karena terfokus pada sekolah. Jadi beginilah akhirnya, anak jalanan yang lebih tua mengajarkan yang tidak-tidak dan menyiksa yang lebih muda dengan menyuruhnya mengamen dan memberikan setoran. Ironis.

Satu hal lagi yang saya renungkan dari kata-kata Desboy. Ia bilang,”Coba, berapa banyak lembaga yang menampung anak jalanan di Jakarta? Ratusan. Tapi berapa banyak anak jalanan yang masih ada di jalanan?” Jadi ia menuturkan banyak dari lembaga-lembaga tersebut yang bukannya mendidik, melainkan menyiksa dan mengkarantina anak-anak tesebut secara tidak manusiawi. Lembaga-lembaga tersebut biasanya milik pemerintah. Desboy yang telah banyak keluar masuk lembaga-lembaga tersebut, telah merasakan banyak hal. Di antaranya dikurung di dalam sel selama tiga bulan tanpa pembalut. Maka jadilah darah berceceran di mana-mana tanpa dipedulikan. Sekeluarnya dari sana, ia mencoba protes pada pemerintah, namun tetap saja tidak digubris.

Setelah itu, kami kembali ke sanggar. Saya berbaring di kamar kecil tersebut, mencoba mencerna lebih dalam apa yang dikatakan Desboy dalam benak saya. Dan pelukan kegelapan dalam balutan keheningan menghantar saya tidur.

Hari kedua. Saya bangun dan segera saja saya sadar kalau saya tidak berada di seminari. Oh iya, Desboy bilang ia akan mengantarkan kami mengamen hari ini. Maka saya sarapan bersama-sama teman-teman, baik para penghuni sanggar maupun para teman seminaris.
Sarapan mereka mencakup mie instant yang dimasak banyak-banyak. Masuk akal melihat situasinya, ada yang harus cepat pergi sekolah maupun melakukan hal lainnya. Tetapi ada satu hal mengganggu saya. Saat sarapan kami melihat sebuah guyonan. Sekelompok remaja yang lebih tua bercanda dengan bocah kecil, yang belakangan saya ketahui namanya Leman. Bercanda sih, tapi kemudian mereka menangkap anak itu beramai-ramai dan memasukkan kepalanya ke kolam lele. Saya sendiri tidak tanggap keadaan, tahu-tahu situasi yang tadinya penuh tawa (remaja yang lebih tua) dipecahkan jerit tangis kesakitan dan kemarahan Leman. Respon saya terlambat. Karena tahu-tahu anak itu sudah diblebepin begitu, saya hanya termanggu. Saya lakukan itu sebagian karena saya tahu diri sebagai orang baru dan sebagian lagi karena saya tidak tahu mau berbuat apa.

Melihat hal yang demikian saya jelas sadar kalau taraf bercanda yang mereka lakukan jelas berbeda dengan remaja umumnya (paling tidak remaja yang saya ketahui). Saya jadi ingat semalam, bahwa setiap anak jalanan telah melalui hari-hari yang tidak mudah untuk mencapai segala hal ini. Jadi kalau bercanda seperti itu mungkin harus dimaklumi dari sisi tertentu. Tunggu sebentar, dimaklumi? Tidak, itu bukan istilah yang tepat. Bukan memaklumi, tetapi seharusnya anggapan yang timbul adalah kita tidak bisa terlalu menyalahkan mereka. Kalau salah, hal itu sudah jelas salah. Tipis memang bedanya, tapi mau apa lagi? Toh belakangan, saya melihat kalau perselisihan tidak jarang tejadi di antara mereka.

Sesudah sarapan, tugas pertama kami disampaikan. Kami diminta membantu mengajar IPS Geografi untuk komnitas sanggar yang usianya setingkat anak SMP. Padahal sih, yang berusia lebih dari itu juga tidak sedikit. Dalam hal ini kami cukup tanggap keadaan dan sebisa mungkin memberikan materi yang sebisa mungkin dapat mereka cerna. Dari sini kami pun belajar bahwa bagi beberapa anak, pendidikan adalah sesuatu yang terlampau mewah. Di antara mereka sendiri, banyak terjadi pertikaian. Namun di hadapan kami, terkesan hormat dan sedikit sopan. Saya cenderung berpikir kalau mereka menganggap kami berpendidikan lebih tinggi dan maka dari itu memandang kami cukup hormat. Kelihatan dari sikap mereka saat kami mengajar. Atau mungkin juga itu supaya kami tidak masuk terlalu dalam pada situasi yang sesungguhnya dan berusaha sedapat mungkin agar sisi negatif mereka tidak menonjol?

Langsung saja deh, hari berubah menjadi siang, memaksa kami ancang-ancang untuk mengamen seperti yang kemarin sudah dibahas Desboy. Seperti janji kegiatan itu akan dilakukan seusai makan siang yang (lagi-lagi) dibumbui pertikaian ‘kecil’. “Jadi lu maunya apa?”kata Desboy. “Mau (maaf) ngewek!” Usut punya usut, Desboy yang merasa bertanggung jawab atas kejadian yang menimpa Leman (yang notabene ternyata tetangganya) menanyakan hal ikhwal pertikaian tadi pagi. Tapi sepertinya tanggapan yang bersahabat dan rasional itu sesuatu yang cenderung mahal dalam hal-hal tertentu dalam pergaulan mereka.

Oke, tanpa basa-basi akhirnya kami berangkat setelah semuanya siap Desboy, Leman, Iman, Eno juga saya siap melihat kejamnya dunia. Eng? Leman? Ah, sebenarnya karena kasus tadi pagi ia (lagi-lagi menurut Desboy) sebaiknya pulang dahulu ke rumahnya karena teman-teman yang melakukan hal tersebut akan diusut. Jadi Leman sebaiknya pulang untuk menghindari perselisihan yang bukan tak mungkin terjadi lagi. Maka jadilah Leman ikut menemani pembelajaran kami.

Langsung saja, singkat cerita kegiatan kami hari ini adalah mengamen. Satu hal yang saya tangkap adalah mengenai identitas saya. Jelas, sekarang saya bukan lagi seminaris hanya ingin melihat-lihat kehidupan, melainkan kini saya sungguh menjadi bagian dari kerasnya jalanan. Seseorang yang berdiri di antara raungan diesel dan jeritan kabut asap kendaraan untuk bertahan, itulah saya. Saya tahu benar peran saya di sini, maka saya tidak mengalami krisis identitas atau menderita rasa malu yang tidak perlu saat mengamen. Itu semua hal yang tidak perlu. Rasionalisasi dan harga diri yang tidak pada tempatnya tidak dibutuhkan di tempat ini.
Mulanya kami ‘berlatih’ di perempatan. Yang pertama berkelompok, lantas sendiri-sendiri. Lumayan mendapat kepuasan di sana, maka dilanjutkan di dalam bus. Kendaraan diesel itu mengantar kami ke suatu tempat bernama Plumpang.

Plumpang adalah suatu kawasan di mana terdapat tanki-tanki BBM milik Pertamina. Atau setidaknya, itulah pendapat orang banyak. Tapi bagi anak jalanan, inilah daerah yang sangat buas, dihuni gerombolan preman dan anak-anak jalanan lain yang berwatak keras. Kekerasan tentu bukan barang baru bagi mereka. Sudah jamak terjadi adu jotos untuk klimaks ‘penyelesaian’ masalah. Dan di tempat yang bengis inilah, Desboy tumbuh. Tak heran masa lalunya menyimpan banyak cerita, pikir saya.

Kami masuk ke daerah itu. Pelosok daerah itu bernama Tanah Merah. Saya memperhatikan sekitar. Di sekeliling saya berdiri perumahan kumuh yang becek dan bau amis karena tergenang banjir. Rata-rata orang kenal Desboy. Sanbil berjalan, cerita pun meluncur lagi dari mulutnya. Perihal hidup dan masa-masa yang telah ia lewati di tempat ini dijabarkannya kepada kami.

Pertama-tama, kami pergi ke rumah Leman. Walau hanya sebentar di rumah kayu kecil itu, banyak hal yang bisa diambil darinya. Dari apa yang dikatakannya, tempat yang mereka tinggali itu dihuni oleh 16.000 orang. Semuanya, adalah orang-orang kecil yang tentunya tidak punya rumah dan akhirnya bermukin di sana. Daerah ini sangat rawan bila terjadi apa-apa dengan tanki-tanki BBM tersebut. Pasalnya, letaknya persis di belakang tempat tersebut. Musibah meledaknya tanki tempo hari pun betul-betul mujur bagi mereka, karena api tidak sampai ke daerah itu.

Ayah Leman yang berprofesi sebagai pemulung itu agaknya reflektif juga. Ia berkata,”Gak perlu jadi orang baik, belajar baik dulu aja dah. Kalau jadi orang baik, sedikit-sedikit minta maaf. Itu aja udah salah ‘kan? Orang sekarang mikirnya udah sampe ke planet-planet. Kalau saya di bumi dulu aja dah.” Dari kata-katanya, saya dapat menangkap, kalau ia mengharapkan yang terbaik bagi anak-anaknya, namun tidak perlu yang muluk-muluk. Ia terlihat lebih tenggelam pada bagaimana mengurus hidup bagi anak-anaknya agar bisa terus bertahan, tanpa terlalu tinggi berkhayal.

Kunjungan berikutnya adalah tumah Desboy. Di rumah kayu yang mungil itu ternyata sarat pengalaman dan refleksi kehidupan.kami menyimak dengan seksama pengalaman-pengalaman yang telah menimpa mereka. Bagaimana dahulu mereka pernah tertipu undian palsu, terkena musibah kebakaran juga hal-hal lain yang menimpa mereka, kami dengarkan dengan seksama. Sungguh hidup mereka mengandun hal-hal yang mungkin tidak akan pernah kita pikirkan, namun inilah realita. Dan Tuhan ada di dalam realita, bukan khayalan kosong dalam gemerlapnya dunia.

Bahkan saat pulang pun kami masih sempat menyaksikan pemukulan dan perkelahian terhadap seorang anak di jalanan, yang ternyata kurang membayar setoran pada ‘petingginya’. Melihat hal itu, Desboy yang peka meminta hasil mengamen kami dan memberikannya padanya. Ia pun juga mencoba bertindak selaku penengah masalah itu. Dan kami pun kembali ke sanggar akar, setelah satu kali mengamen, meski ada insiden kecil yang membuat kami terpisah dengan Desboy.

Hari berikutnya dengan rencana berikutnya. Agenda kami hari ini: memulung. Dan sebelum itu:mengajar. Bahannya ilmu pengetahuan alam bagi siswa sanggar yang setingkat murid SD. Kami mempersiapkan hati dan tenaga untuk bersiap menghadapi hari ini. Tapi soal memulung itu kami harus menunggu, karena Desboy harus sekolah terlebih dahulu.

Pada siang harinya, Desboy sudah kembali ke sanggar. Kali ini kami akan ditemani seseorang untuk mengamen di bus dalam perjalanan (lagi-lagi) ke Plumpang. Nama orang itu Johan. Jadi supaya kami tidak membayar terlalu banyak di bus, ada yang jadi pengamen dan ada yang jadi penumpang. Sama seperti kemarin.

Di daerah yang sama, kami kembali berpetualang mencari kenalan Desboy yang memiliki gerobak sekaligus kait yang digunakan untuk memulung, yang mereka sebut gancu. Setelah gerobak didapatkan, izin pun diberikan pula. Maka jkami berpetualang menyisir jalan mencari apapun yang laku untuk dijual. Barang-barang tersebut bisa saja kardus, botol air mineral, botol plastik dan lainnya.

Kami menyisir jalan dengan membawa gerobak bergantian. Pembagian tugas pun dilakukan, yaitu satu orang berada bersama pembawa gerobak, dan yang satu berjalan di sisi lain jalan dengan karung dan gancu. Semua itu kami lakukan dengan hati besar, berusaha menyelami realita sosial yang ada, guna mencetak pribadi kami dan membuka jendela hati terhadap hitamnya keadaan anak-anak ibukota.

Dan jadilah petualangan ini kami lakukan di bawah rintik-rintik hujan. Keluar masuk pasar dan menyusuri jalan-jalan raya, kami menjadi manusia yang lain. Manusia-manusia yang ingin mencari uang untuk kehidupan dengan menggantungkan harapan pada gancu dan karung. Dan manusia-manusia ini pun tak jarang juga bertemu orang-orang yang senasib sepenanggungan. Banyak pemulung-pemulung di jalan itu dan kami terus berjalan sambil berefleksi di dalam hati. Di manakah Tuhan bagi para pemulung? Tuhan hadir di dalam botol-botol plastik dan kardus yang ada di hadapan mereka. Tuhan hadir dalam angka timbangan yang menunjukkan beratnya sampah yang mereka kumpulkan. Dan Tuhan senantiasa hadir dalam kekuatan dan ketahanan mereka melewati keadaan dan cemoohan orang, yang juga oleh kami telah dirasakan.

Seselesainya kami dari sana, perolehan kami harus ditimbang. Ternyata, kerja keras kami dari siang hingga sore dihargai enam ribu rupiah! Di dalam hati saya, saya berpikir kalau nominal tersebut jauh di bawah pendapatan mengamen kami tempo hari. Namun sekali lagi, saya berhadapan dengan realita. Pahitnya keadaan hanya bisa dikalahkan dengan kerja keras. Dan bila hal itu sudah terwujud kekuatan kita akan bersanding dengan pahitnya keadaan sebagai teman yang saling menerima dan memberi, baik itu marabahaya maupun rejeki.

Sementara senja menghitam, kami sempat menikmati keramahan dari keluarga Desboy di Tanah Merah. Sepiring ubi goreng dan susu hangat ternyata adalah teman yang menyenangkan dalam pembicaraan kami sore itu. dan salah satu pembicaraan yang saya dengar, ternyata mereka harus membayar sesuatu bagi sekolah Desboy perihal ujian akhir dan hal tersebut jumlahnya tidak sedikit. Tapi kalau saya tidak salah dengar, Desboy mengatakan kalau sudah diselesaikan ia ‘pasti lulus’. Maksudnya apa silakan dipikirkan sendiri.

Saya tersentuh dengan kehidupan mereka, yang oleh orang-orang mapan pastilah merupakan suatu kejijikan ternyata berkilau seperti mutiara. Cahaya kilauan itu membuat saya sadar, mereka pun citraan Allah. Tetapi bedanya mereka citraan Allah yang tumbuh di tengah-tengah kejamnya dunia. Dan kebaikan mereka sore itu membuka mata saya bahwa orang-orang yang mapan hidupnya pun tidaklah lebih tinggi dari mereka. Semua manusia sama berharga dan setara derajatnya. Dinding kekayaan tidaklah cukup tegar untuk membedakan manusia, sebab Allah tetap hadir di dalam diri manusia itu, apapun keadaannya. Hanya masalahnya, apakah kita cukup rendah hati untuk mendengarkan-Nya? Dan kami pun kembali ke sanggar membawa pelbagai pemikiran perihal dunia ini.

Malamnya, kami bertiga berbaring sembari memikirkan dan memperbincangkan hal-hal yang telah kami peroleh sepanjang hari itu. Saya sendiri mendapat sedikit masalah dengan perut saya, barangkali karena hujan, saya terkena diare yang cukup merepotkan. Dan malam itu itu Desboy, untuk yang terakhir kalinya masuk dan berbicara kapada kami. Ia mengatakan banyak hal malam itu. Ia berharap kunjungan kami ke sini tidak hanya berlalu begitu saja, tetapi selalu membekas di hati kami agar kehidupan yang anak jalanan yang telah kami lalui tidaklah sirna begitu saja, melainkan Sanggar Akar dan semua yang ada di dalamnya menjadi kenangan dan pembelajaran yang berharga.

Ia juga sempat bercerita lagi tentang kerasnya kehidupan yang ia jalani sebagai kuli bangunan dan sempat ditipu mandornya. Juga ada cerita saat ia hendak diadopsi seorang kaya tetapi tak tahan karena tak mau disekolahkan dan belajar bahasa Jerman. Semua pahit manis kenangan tersebut ia bagikan tanpa rasa sungkan, membuat hati kami semakin tersentuh dan dekat dengannya. Terakhir, ia menitipkan surat untuk para sahabatnya di Gonzaga, dan sebuah kamera pemberian salah seorang sahabat lamanya. “Tolong diliat. Masih bener apa enggak, gua nggak tahu. Gua nggak punya batere, belinya mahal.” Maka jadilah kamera tersebut kami bawa untuk dilihat apakah bermasalah atau tidak. Ia juga menyertakan permintaan maaf apabila ia atau teman-teman sanggar yang lain berbuat salah terhadap kami. Dan tanpa terasa, selesailah perbincangan kami.

Kami bangun keesokan harinya dan berkata di dalam hati, “Sudah berakhir ya…?” Kemudian sarapan di tempat itu untuk terakhir kalinya, dan tak berapa lama kemudian, siap berangkat. Maka, seusai berpamitan pada para pengajar dan penghuni sanggar, kami melewati gerbang itu membawa harapan untuk bisa kembali lagi ke sana, menepati janji pada Desboy yang tidak akan kami tidak melupakannya. Dan di luar gerbang itu, Tuhan yang mengajar dan menyertai kami dalam pembelajaran hidup kami di Sanggar Akar, sudah menunggu kami di tempat lain, Seminari Wacana Bhakti.

Malam Menyela

Rabu, 23 Desember 2009

Malam menyela, bintang menepi
Segenap mata dunia diresah dahaga.
Dahaga apa? Dahagamu manusia
Jiwamu manusia

Orang terkapar di trotoar
Anak kecil terlelap di jalanan
Malam menghinggapi semua kehilangan
Melahirkan yang jalang
Memeluk yang pulang

Jiwa mereka tersujud
Tertekuk tersedu karna kegalauan
Doa bergulir dalam irama yang perih
Tinggal sepi menghinggapi mimpi-mimpi
Tak mampu menggapai rembulan
Tak mampu mengusir kekosongan
manusia
Hanya perih dan pilu, patahkan yang tegar

Kota ini menjerit-menjerit
dalam bisu
Dalam semua kehilangannya akan
kebajikan
Dari semua celah hanya mengintai
ketiadaan

Orang tertikam terkhianati
Hanya mampu sembunyi
Hanya bisa mencuri-curi
Hanya bisa mencuri-curi

Orang terbuang terkelu hati
Hanya jasad terbujur mati
Hanya boleh bermimpi-mimpi
Hanya boleh bermimpi-mimpi



lab Komputer SWB
23 Desember 2009

Rosario Tengah Malam

Selasa, 22 Desember 2009

Cerita yang terjadi saat saya kelas satu di seminari ini boleh dipercaya boleh tidak, yang jelas saya tidak berbohong. Cerita ini sedikit aneh, sedikit tidak jelas, sedikit sulit dipercaya, sedikit garing, sedikit puitis dan vulgar (kali) juga sedikit aksi (bohong, deng!) tapi yang jelas banyak refleksinya. Tapi kalau mengenai isinya sih… umm… yah, baca sendiri lah, daripada semakin bertele-tele!

yahdan, pada malam pucat tanpa bintang, hati ini terbakar dalam gelora jiwa yang berduka. Rindu makin panas. Sepi menghantui. Duka menguliti hati dan rasa dada sesak oleh air mata yang tak dapat ditumpahkan pada pelukan hangat siapapun juga. Dalam kesedihan yang mencakar-cakar dinding nurani, tidak ada jalan selain mengirimkan semua lara ke perut Tuhan. Dan untuk itu, diperlukan merpati pos khusus yang bernama DOA.

Pada sepinya angin malam, aku keluar dan berjalan mengitari lapangan basket, mengirimkan segenap sakit hatiku pada Tuhan agar Ia memelukku dengan cinta-Nya. Biji-biji rosario bergulir di tanganku, menjadi ganti bagi air mata tidak dapat kuteteskan sepanjang hari-hariku yang lampau. Aku berbicara dengan hatiku, dengan Tuhanku, dengan malamku dan apapun yang menyertai aku berdoa malam itu. Terisak tanpa suara. Tersedu tanpa kata-kata. Menangis tanpa air mata. Berdoa. Sendirian.

Terus aku berjalan mengelilingi lapangan malam itu. Berjalan bersama doa-doaku semakin dalam ke dalam gundah hatiku. Angin dingin menampar kesedihan. Hitam malam memeluk sepiku. Dan suara kasar, mengerang-erang, mendesah-desah me… Hah?! Apa yang… ?! Dan ketika aku mendengar itu, bubarlah konsentrasiku, pecah doaku dan yang tersisa tinggallah bingung tidak keruan. Oke, sudah cukup puitis-puitis nggak jelas dalam tulisan ini. Taruhan, kalian tidak akan menyangka apa yang saya dengar pada malam itu. Mau tahu? Lanjut ceritanya!

“Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu…”, saya melanjutkan doa, mengumpulkan konsentrasi, berusaha kembali menghayati seperti semula.

“Ohh… Ahh… Ahahahaahh…hahahhhh…ahaha…!” (Suara wanita, tidak jelas dia tertawa atau apa, yang jelas ini jeritan panjang yang sangat kencang dan nadanya tinggi. Suara wanita ini tidak hanya satu)

“Hahahahaha… hahh…ahhh… hahahaha…!” (Suara laki-laki yang lebih berat. Seperti teriakan yang keras dan sama dengan yang wanita, tidak jelas tertawa atau apa. Suara ini pun lebih dari satu.)

Saya berusaha mengabaikan semua pikiran aneh dan terus melanjutkan doa. Tapi ternyata ini tidak semudah kelihatannya. Suara-suara ini semakin kencang, semakin berat dan lambat dan lama-lama semakin kedengaran tidak “sehat”. Samar-samar saya mendengar kalau mereka memang memperbincangkan sesuatu sambil tertawa-tawa, berteriak-teriak, mendesah-desah, tapi semua ini diucapkan dengan tidak jelas karena terlalu cepat meski suara mereka sangat keras dan membuat keributan.

Sambil berdoa, saya melacak asal suara tersebut. Ternyata asalnya dari salah satu rumah yang ada di balik pagar seminari. Saya mengalihkan perhatian ke pos satpam, yang dari tadi tidak bereaksi dengan “keganjilan” ini. Hmm… wajar saja mereka tidak terganggu. Ternyata teman-teman saya ini menyetel sebuah radio yang memutar musik dangdut dengan volume super mentok, jadi suara-suara ini juga tidak mengganggu. Atau jangan-jangan mereka sudah tidak asing dengan hal tersebut? Ah, tak tahu juga lah!

Mau tidak mau saya pun menyelidiki hal ini setelah menyelesaikan doa yang tidak bisa saya resapi. Suara itu datang dari arah kompleks perumahan di sebelah seminari. Saya memastikan rumah yang mana yang mengeluarkan suara-suara tersebut, karena memang ada banyak rumah di belakang pagar tersebut. Setelah yakin saya dengarkan lagi apa yang tengah berlangsung di sana.

“ Ahh… hahahahh… haah… ¥Fފސޓބޠޤވޗޱ1)… hahahahh… ahh…. Hahaha…..”

“Uahahahaahhh… ahh… ahh…ehhhaahh…hahahaha… !”

“Hahh….ahh…. heehhh….........Ahhh…”

“Uahahaha…. ×ஒமஜF\.... Ini bukan bir bintang…. INI BIR BARANG…! Uahahahahh…hahahaha....hahaha...”

Kalimat terakhir itu saya dengar dengan amat sangat jelas. Setelah mengucapkan itu mereka semua tertawa liar serabutan macam orang sakit jiwa. Setelah itu sulit bagi saya untuk mendengar kelanjutannya karena mereka kembali berteriak-teriak tidak jelas. Yah… bukannya sok tahu tapi kok rasanya dari kalimat terakhir itu saya merasa berhak untuk berpikir yang aneh-aneh. Aneh-aneh? Yah… tak tahu lah!

Mmm… gimana ngomongnya ya? Baik, saya anak Jakarta, sudah sering mendengar kelakuan-kelakuan gila remaja di luar sana. Kasus-kasus yang jamak jadi naskah pembawa cara berita di TV seputar kenakalan remaja pun bukan hal yang asing juga. Tapi kalau mendengar sendiri yang macam itu, terus terang saja, belum pernah. Memang setelah itu pun mereka belum selesai, tapi berhubung nyamuk semakin banyak dan hari semakin larut, saya pun pergi tidur sambil merenung-renungkan pengalaman yang @#$%+! 2) ini.

Sampai di kamar pun bingung belum habis, heran belum hilang. Sayup-sayup masih terdengar suara “ahh-haahh-ahhh…” dari jauh. Sinting. Ternyata dari dalam Unit 1 satu pun terdengar juga. Saya periksa wajah teman-teman saya. Ada cengar-cengir, ada yang ngiler, ada nggak jelas ekspresinya, tapi yang mereka semua tidur pulas. Dasar kebo! Biarlah. Besok saya punya cerita untuk mereka. Cerita bahwa di luar sana terjadi banyak hal yang belum kita duga sebelumnya. Cerita bahwa dunia ini masih menyimpan banyak hal yang asing, yang aneh, yang sulit dipercaya, tapi kenyataan. Cerita yang membuktikan bahwa kita adalah segelintir orang berjuang melawan ombak kesenangan dan kegalauan hidup di jalan panggilan. Yah… itulah…

1) Ini maksudnya kata-kata yang tidak terdengar jelas, tapi keras sekali.

2) Silakan isi dengan istilah apa saja yang menurut anda mengena, seperti absurd, ganjil, dsb.

Aku dan Desember

Senin, 21 Desember 2009

kesepianku pulang bulan Desember
mungkin boleh aku berharap kalau melihatmu sejenak
membayangkanmu riuh sedari dulu
atau menangkap udara pilu dalam kebisuan aroma tubuhmu
dalam dekapanku, kita berdua dalam hujan
ketakutan karena impian masa depan bahkan harapan
merayapi kesepian kita dengan bergandengan tangan

malamku duduk terbisu
hatiku terkapar terkelu
memperbincangkan dirimu dalam bayang-bayang
masa lalu membuat kita belajar kalau
langit memang tak selalu biru

jalanan becek sendu, nafasku berguguran bulan Desember
impianku berkerut-kerut, menggelepar kehilangan kasihmu
dengan apa kugantungkan nasibku, sayang?
apakah langit yang meniadakan keadaan kita
atau senja yang melelehkan air mata?

bukankah kesepian juga yang memanggil bayangmu pulang?
aku masih saja menantikan sayangmu
dalam kerinduan tak terkatakan
dan kesepian yang mengambang di sela-sela waktu
yang tak akan berulang


Lab komputer SWB
21 Desenber 2009

Rumah dengan arsitektur yang aneh...

Minggu, 20 Desember 2009

Saya habis browsing di kaskus, eh malah nemu ginian. Ya udah kopas aja, itung-itung menambah pengetahuan....

Rumah yang disebut "The Klein Bottle House" yang didisain oleh Rob Mcbride didirikan di Australia mempunya bentuk yang tidak beraturan. Kalau kalian lihat, bentuknya malah kayak origami, atau apa gitu... Kok dia kepikiran ya?

Inspirasi desainnya sendiri dikarenakan sang desainer ingin mengubah paradigma yang ada di masyarakat bahwa rumah itu harus memiliki bentuk yang beraturan dan sewajarnya saja. Lantas terciptalah rumah yang, umm... sangat-sangat... yah kalian ngerti kan maksud saya?










Kepada Eleana

Sabtu, 19 Desember 2009

Di malam penuh nyamuk baris-
baris puisi ini kutulis untukmu,
dirimu Eleana, tempat peziarahan hatiku dan
pucuk-pucuk daunan rinduku

ketika hari gelap tiba dan
rembulan merajang-rajang cangkir harapan
kau tahu, tentu kau tahu kalau
warna matamu memancar dalam sisa puing-
puing imajinasiku, melesatkan haru dan tawa
yang mengendap di tulang-tulang rusukku, mengembang menjadi kelopak sayap
itulah, aku mengingat dirimu
(ah! pembicaraan ini lagi!)

tanpa kabar dan cerita dariku tentu
kau tahu, itulah, hati lelaki melupa semua selain
bingkai merah bibir wanitanya
menguncup, mesra, lembab seperti teratai gunung dan
embun yang menitis turun

siapa entah yang sanggup mendapat tahu
Eleana, kalau baris-baris kata perpisahan
kita dulu, mencakar liang-liang nadiku sekaligus
melesakkan malam-malam hitam ke
dalam segenap mimpiku, ah, tentu saja
ini bukan kehendak kita, tapi toh
tetap saja, itulah, aku harus pergi
kepada ombak di lautan darah yang memukul telanjang tubuhku

kau tahu, itulah, tentu kau tahu kalau
baris-baris sajak ini tak
akan bergerak dan terbacakan pada meja kerjamu apalagi
hatimu, akar-akar kerinduanmu yang tak terjamah

tapi tak apa, tak ada salahnya
saat nanti kau merasakan angin rindu di baris-
baris sajak ini, kau tahu, kau tentu selalu tahu
kalau bangkaiku tetap menunggu lawatanmu



meja studi unit 1, SWB
11 Agustus 2009

Untuk Siapa Aku Lupa

Senin, 14 Desember 2009

Aku ingin menulis kata cinta
untuk siapa aku lupa.
Mungkin matamu yang mendung tak
hendak mengatakannya
meski demikian, bolehkah ku
panggil kau "sayang"?
Waktu yang berdegup di
jarum jam tua yang mengatakannya padamu.
Mengatakan agar kau jangan bosan
singgah di menara hatiku.
Kau pergi dari pikiran seperti
khayalan mimpi yang ditelan bintang-bintang.
Kemana harus kutitipkan nada rindu ini?
dan meski ingatanku tak ubahnya
seperti debu yang ditelan angin
aku tetap ingin menarika sajak cinta ini.
Aku pasti kehilangan gambar wajahmu di mataku.
Aku lupa gerai rambutmu yang dulu
atau namamu siapa aku habis peduli.
Tapi yang mana saja, yang apa saja
aku selalu tahu aku
ingin memanggilmu "sayang".




di lapangan
15 Nopember 2009

Yudas Iskariot, Wajah Pengkianatan

Minggu, 13 Desember 2009

Siapa di antara kita tidak mengetahui, atau setidak-tidaknya mendengar tentang figur pengkhianat, Yudas Iskariot? Saya yakin seratus persen, pribadi ini dikenal oleh semua orang di zaman modern, Kristiani atau bukan. Yudas mengkhianati Yesus Kristus demi tiga puluh keping perak. Belakangan, ia disiksa rasa bersalah tak tertahankan, dan memilih mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri. Namun, ketika ia melakukan itu, ternyata talinya tidak cukup kuat. Ia terjatuh dan isi perutnya terburai di tanah, menjadi santapan anjing. Saya bingung harus berkata apa tentang dia. Kalau dia itu pengkhianat terkutuk, lantas apa saya bisa bilang kalau saya lebih baik dari dia? Ah, itu pertanyaan yang rumit. Yang jelas, sekarang saya ingin menampilkan interpretasi para seniman tentang laki-laki ini. Bagaimana mereka menggurat watak, garis wajah, dan situasi pengkianatan itu dalam karya seni. Kenapa saya tulis wajah pengkhianatan, bukan wajah pengkhianat? Sebenarnya nama Yudas akrab kita dengar dan telah menjadi ciri khas bagi semua penusukan dari belakang dalam berbagai situasi. Itulah kenapa saya tulis demikian. Mungkin sebenarnya Tuhan pun punya penilaian lain soal dia?
Selamat menikmati! Sayang saya tidak tahu semua nama senimannya...






Yang terakhir ini oleh Nikolai Ge

Seni Lukis Realisme

Dalam seni rupa, realisme berarti usaha menampilkan subjek dalam suatu karya sebagaimana tampil dalam kehidupan sehari-hari tanpa tambahan embel-embel atau interpretasi tertentu. Dalam pengertian lebih luas, usaha realisme akan selalu terjadi setiap kali perupa berusaha mengamati dan meniru bentuk-bentuk di alam secara akurat. Maknanya bisa pula mengacu kepada usaha dalam seni rupa untuk memperlihatkan kebenaran, bahkan tanpa menyembunyikan hal yang buruk sekalipun.
Kali ini, saya akan menyajikan lukisan-lukisan realisme yang membentang di luar batas imajinasi anda. Saksikan saja sendiri!


Gambar di bawah ini adalah gambar dari Sorin Sorin, pelukis dari Moldova.





Kalau ini kalian pasti berpikir kalau ini adalah foto. Tapi sayangnya, ini lukisan photorealistic yang dibuat oleh Dru Blair, seniman asal Columbia. Luar biasa sekali bukan?

Kenangan Tua

cahaya yang bertandang turun mengguliri wajahmu
menyegar waktu yang kehilangan tawa
apakah yang rubuh patah itu pendirian
jiwamu, puing-puing yang kau sebut rumah?

di becek-becek jalan yang menyua bisu
kita kehilangan taring yang tumbuh dalam
kebencian tua
siapakah yang membawakan kedamaian ini
semua kehilangan yang menghantar kita kepada perpisahan

wajahmukah? sisa-sisa imaji yang masih
bersarang di sepi dadaku yang membisu
mengingatkan aku akan tawa yang nyaris tiada kau derai
satu-satunya alasanku menyesali berlalunya dirimu


Lab Komputer SWB
13 Desember 2009

Tuhan, Aku Berdoa...

Kamis, 10 Desember 2009

Tuhan yang ada di surga entah di mana
aku berdoa buat senapan-senapan di medan perang
supaya mereka terserang flu akut hingga
tak mampu memuntahkan peluru

Tuhan yang baik dan manis
aku berdoa untuk panser-panser itu
supaya ompong taring-taringnya
yang sudah lama mengunyah kami

Tuhan yang katanya Maha Murah
aku berdoa buat tentara-tentara itu,
biar mereka kena sipilis dan tidak memperkosa
gadis-gadis kami lagi
biar mereka katarak
dan saling tembak teman sendiri

Tuhan di surga
aku masih berdoa bagi para politikus
yang menonton nasib kami dengan
buntal-buntal uang
aku berdoa biar mereka mati
tercekik di kedalaman harta mereka

Tuhan yang tahu segala
aku berdoa lagi
buat Si Rohim, Kumang, Sarpi
yang dibungkam peluru siang tadi
juga buat Eleana yang diperkosa ramai-ramai sore kemarin
Kau tahu harus berbuat apa untuk mereka, aku tidak tahu

Tuhan yang sangat baik,dan yang selalu paling baik
aku berdoa, andaikata mereka nanti
menemukanku berdoa di sini
aku ingin sempat menjejal detonator ini
ke mulut mereka biar
mereka ikut bersamaku, sama-sama bertemu Kamu



Lab Komputer SMB
10 Desember 2009

Kepada Waktu

Rabu, 09 Desember 2009

dari sepimu lahir puing-puing puisi
yang merahkan kenyataan yang
makin ganas, makin biadab dan kian
perih tiap kali kita berpaling

siapa yang tahan bergesek dengan
gerigi-gerigi asamu?
kau berjalan seperti api,
mendatangkan fajar dan mengujar malam
tanpa jemu dalam perjalanan sunyi yang abadi

tapi, simpan tanyaku malam ini,
kapan tiba hari kau hapus air mata kami?



Ruang Komputer SWB, 9 Desember 2009

Dengan Gadisku

Senin, 07 Desember 2009

apakah waktu yang mencampakmu dari rindu bibirku
atau gerhana malamku?
aku menyisir semua siang memburu tawamu, tapi
di mana tak kutemu. biar pilu dasar leherku
memanggil namamu, tak tergerai senyum gadisku

dalam menyisip semua pintu hanya ajal
dari cintaku yang kutemui.
maukah kau kubawakan tinta pada malamku?
atau warna dari senjaku?

apa yang tak kudengar dari tangismu sehingga
kau mengunci matamu dariku?
semantara kau bertahan dalam sepimu
aku hilang dalam diammu

apa yang terelak saat aku membagi ria
padamu di padang-padang kemerah senja?
lupakah aku sehingga padaku tinggal bisumu?

biar pergi gadisku, biar pergi
mungkin tak jenaka kataku atau membosankan aku
yang masih cinta padamu ini
bila nanti kau ingat wajahku dalam
kebencianmu, kalau bisa
jangan pernah memaafkanku




melantur siang-siang di Lab Komputer SWB
8/12/2009

Karikatur Aspek Hidup Seminari

Hidup di seminari memiliki empat aspek mendasar, yaitu
sanctitas, sanitas, sciencia dan societas. Pendeknya
arti dari bahasa latin di atas adalah hidup rohani,
kesehatan, studi dan hidup komunitas. Ini akan saya
jelaskan lebih lanjut di postingan yang akan datang.
tapi yang jelas, gambar-gambar di bawah ini asli
bikinan saya.





Karikatur Lingkungan

Mmm... para seniman dunia memang tidak pernah kehabisan akal...
Thx to http://www.irancartoon.com






Karikatur-karikatur Perang

Minggu, 06 Desember 2009






Dalam kepiluan dan keberingasan perang,
imajinasi masih bisa menari...

Cerita Tentang Kawan

menyaksikan wajahmu kering berkarat
tergerus oleh kekejian
waktu adalah hal yang
paling tidak kuinginkan di dunia ini

sepi-sepi yang membeku
dalam kegelapan air matamu meluap
bersama deras-deras angin,
membuktikan padaku kalau masih ada
alasan untuk menemanimu

apakah yang pecah patah itu kegelapan
atau wajah kita berdua yang terbias padanya?
membicarakan hari depan yang tak terelak,
kemungkinan yang tak terkira dalam
larut-larut malam menjadi kesan yang memenuhi
ruang kekosonganku

pilu dan sepi yang terhanyut
di celah-celah kegelapan membuktikan
kalau kita masih kuat, masih layak
bahkan saat kita membeku dalam
kediaman yang panjang tanpa jeda

malamku yang haru
doamu yang pilu
berdua mereka menjadi pintu
pembuka ruang gelap kita menuju
obrolan bisu kita yang lain
di suatu tempat lain
entah kapan


lab komputer SWB
6/12/2009

Fakta Tersembunyi 17 Agustus 1945

Sabtu, 05 Desember 2009


Ada beberapa hal yang rata-rata tidak diketahui orang dari peringatan sakral 17 Agustus. Ini beberapa contohnya:

• Bung Karno Baru bangun pukul 09.00 karena terkena malaria di kamarnya, di Jalan Pegangsaan Timur 56. Suhu tubuhnya tinggi karena begadang bersama para sahabatnya menyusun teks proklamasi.
• Upacara dilakukan tanpa korps musik dan tiang bendera adalah bambu kasar yang baru ditanam menjelang upacara. Inilah upacara akbar yang paling dinanti selama tiga ratus tahun masa penjajahan!
• Bendera pusaka dibuat dari kain sprei dan kain tukang soto yang dijahit Ibu Fatmawati.
• Perintah pertama Soekarno sebagai presiden adalah memanggil tukang sate. Itu dilakukannya dalam perjalan pulang setelah terpilih sebagai presiden secara aklamasi. “ Sate ayam limapuluh tusuk!”, perintah presiden. Lantas disantapnya sate itu di dekat selokan kotor dengan lahapnya.
• Naskah asli teks proklamasi yang ditulis Tangan Bung Karno ternyata tidak pernah dimiliki pemerintah! Wartawan B.B. Diah menyimpannya selama 46 tahun 9 bulan 19 hari setelah ia menemukan teks itu di keranjang sampah di rumah Laksamana Maeda 17 Agustus dini hari. Baru pada 29 Mei 1992, ia menyerahkannya pada Presiden Soeharto.
• Bung Hatta mengusulkan agar semua yang hadir dalam rapat membubuhkan tanda tangan pada teks proklamasi. Sayangnya usul itu ditolak Soekarni, salah seorang pemuda. Kalau ini terjadi, Indonesia punya lebih dari dua proklamator. ”Huh, diberi kesempatan membuat sejarah tidak mau”, gerutu Bung Hatta.
• Dokumentasi peristiwa proklamasi selamat karena kebohongan. Tentara Jepang sudah mendatangi si juru foto dan hendak merampas negatif fotonya. Namun, Frans Mendoer, fotografer momen tersebut, berkata kalau itu sudah diserahkan kepada Barisan Pelopor, salah satu gerakan perjuangan. Kejadian yang sebenarnya, benda itu ditanam di bawah pohon di kantor Harian Asia Raya dan baru dipublikasikan setelah Jepang pergi.
• 17 Agustus juga merupakan tanggal kematian W.R. Soepratman, pencipta ”Lagu Indonesia Raya” (wafat 1937) dan pencetus ilmu bahasa Indonesia, Herman Neubronner van der Tuuk (wafat 1894)
• Gelar Proklamator Bung Karno dan Bung Hatta hanyalah pemberian tidak resmi rakyat secara lisan selama 41 tahun! Pasalnya, pemerintah baru memberikan gelar itu secara resmi pada mereka tahun 1986.

Yah, itulah tadi serangkaian peristiwa yang mungkin belum diketahui khalayak. Semoga kita sebagai bangsa yang besar jadi lebih mengetahui peristiwa sejarah bangsanya

Sumber: Harian Suara Merdeka

Pertemuan Mimpi

Kamis, 03 Desember 2009

Aku sudah lupa bagaimana kau
menggigitku dengan waktu yang
kau asah di batu-batu kebencianmu.
Desah Embun dan kincir matamu
membisu, menikamku pekat dengan
rindu, dendam dan haru yang lama
kau tahan. Aku terpaku. Kau
terpincang menjauhiku, lari dari perut
pantai yang mendesah dimesra laut.
Darah mengalir dari senyummu,
air mata dari tawamu. Kebencian
di urat matamu terbaca jelas,
seolah ingin menyakiti cintaku
yang lama kehilanganmu.
Tampias hujan meradang di bumi.
Kau menangis dalam sepi.
Aku bau orang mati.
Pada keringat dan air matamu
yang bersatu dengan hujan, aku
berkaca. Gelap. Tak ada apa-
apa selain cinta yang kehilangan
api. Kau luka. Aku tidak
punya daging lagi untuk menutupinya.
Maafkan aku. Puisi ini untukmu.
Semoga ia bisa memeluk sepimu
karena dulu tak pernah kulakukan itu.


4/11/09
sore di refter SWB

Dede Eri Supria Sang Seniman Realis

Rabu, 02 Desember 2009






Data Personal,
Dede dilahirkan di Jakarta, Indonesia, 29 Januari 1956,sebagai anak ke 7 dari 11 bersaudara. Ayahnya bernama Supandi Tanumihardja. Ibunya Saribanon. Ibu angkatnya Alfiah.Tahun 1974 atas saran sang bibi Nina Sulaiman Feltkamp, ia pindah ke Yogyakarta,Dan sejak tahun ini ia menyatakan diri sebagai
seoarang pelukis, Tahun 1981 ia berkeliling ke museum-museum dan galeri di Eropa Barat atas sponsor bibinya. Tahun 1981 menikah di Jakarta dengan Dewi Kun
Saraswati, dan tahun 1988 dianugerahi anak lelaki, Hidayat Djati. Tahun 1998 lahir anak kembar , Tzany Afifah Saribanon dan Ibrahim Hanif.Tahun 1999, bulan Mei, lahir anak yang keempat,seorang lelaki, Nawwaf Husein.

Sketsa Manusia

selalu! waktu yang berulang dan membundar
membuktikan keadaan dan mulut orang-orang
sudah lama bungkam dengan malam

mendesah, membisu dan merayu
topeng manusia tak pernah sungguh
mereka singkirkan. pernahkah kau pikir kalau kita
ini binatang tak berwajah? bayangan yang terpantul setiap
kali kita berkaca hanya sketsa kasar yang
penuh bekas hapusan, coretan dan garis berulang yang tak bisa hilang

sejarah hitam adalah aib yang terbakar di dahi
masing-masing orang. tertulis di balik rambut dan batok tak berakal
yang mereka bilang kepala.
mana yang lebih putih,
jubah orang suci atau darah para jahanam?

di mana tuhan saat retak harapan bergelimpangan menjadi nada
setiap jeritan duka? bilakah manusia berhenti mengeja
nama tuhan, mencium tanah, mendupa kuil saat mereka tahu
tak ada binatang yang dapat diparang?

tidak ada ampun!
sekarang hanya gemeretak waktu yang diperkosa semua
kehilangan. tak ada pujian atau nyanyian atau sorak teriakan.
di sini hanya kita yang tersisa
dengan bangkai bumi dan mayat matahari
habis, tertembus peluru yang gagal membunuh tuhan



ruang komputer SWB, Oktober 2009.

Kata-kata Kita

Minggu, 29 November 2009

kata-kata tua kita meruang dalam kegelapan
melepuh dalam kesunyian
terbakar karena kedinginan syahdu yang
menitik turun dalam embun yang lelah
berat mata, sepi dada

baris-baris kita bersusun dalam sajak
dalam kutipan berkarat yang jengah
lelah , diungkit kata-kata putus asa

malam yang berjapi, sunyi ngeri yang
menyanyikan itu padaku
tentang kata-katamu yang mematung bisu
di ruang hujan, di basah topan
meliuk, meggulung haru, ya, haru kita

ai, ai, ai... kita berlepas asa bersama
berloncatan di ufuk embun
melepas hati, melepas peduli
persetan masa depan, segala taik kucing ramalan

kiamatkah hari ini, besok atau kapan
lagi waktu dieja?
yang bersuara di sini: KITA
hanya kita, selamanya?
semoga...

Body Painting






Seni adalah jiwa. Tinggal dari mana kita melihatnya.

Kekalahan Mimpi

Jumat, 27 November 2009

sedianya kita hanya terus berharap, berharap, berharap
meski pada akhirnya kita hanya berlari, mengejang dan mati
kita tetap harus ikhlas pada ombak menyengat
yang kita namai: kesakitan

dalam baris dan sajak, perumpamaan dan pikiran
kekalahan selalu menghanguskan, meninggalkan
gurun-gurun tak terperi, memangsa manusia yang berkarat di dalamnya

kita selalu bertanya: tak dapatkah kau bawa aku ke atas, duhai malam?
hanya rembulan dan mimpi bintang-bintang yang tahu
menerjemahkan pekikan malang
merintih, menangis, membisu dalam kebekuan waktu
yang kau guratkan senja itu

kita terlampau lelap untuk bangkit bersama angin
mengembun dalam dingin, mencair dalam hujan
ah! hanya tuhan yang paham bagaimana bagaimana mengawinkan
kesakitan manusia dengan perih dan duka sang alam

aku ingin tahu apa kau masih menggebu menemaniku
aku masih di sini, senantiasa di sini menantikan tawamu terpicu
dalam khayalku. ayo. aku ingin kita berhenti mendengkur dan mengumpat tangis
dalam lipatan tangan yang berbisa. ku akan membawamu
melompati malam, menyulam sayang yang tak pernah kau selesaikan. kita.

lab computer SWB, 9 Nopember 2009

Menantikan Remuk

pada usia kita yang terus lanjut cerita tentang dunia yang keji tak terperi
belum juga tamat. kita memikirkan itu sampai muak, sampai
mengendap segala tumpah gelisah dan amarah yang payah, yang membusuk
tak keruan seperti bangkai besar yang dimangsa kematian tak terkira

waktu membuat kita mengeras, sebagaimana peperangan hanya menyanyikan kematian
dan tangisan. peluru dan mesiu yang bisu bersarang di pupil matamu. bagaimana kita
tahu cara mengeja keabadian? bumi mengandung kemarahan di hari tuanya. kandungannya
mengerang, memuntahkan maut berbisa dan darah yang menggeliat. menggeliat!

kesakitan diolah setiap hari. duka dimasak setiap pagi. kematian menjadi akhir sebuah janji.
ingatkah kamu yang kita catat di buku sekolah tempo dulu?
sejarah tak dapat mati dan berganti, namun ia dinodai setiap kali.

katakan. bagaimana nanti tuhan akan meremuk kita karena memperkosa bumi,
membunuh malaikat, menetas ajal panjang tiada penghabisan?
kamu belum melihatnya, langit menjadi beracun, hujan mendendam
dan bumi yang kita injak-injak menerkam habis raja para binatang: manusia

kalau aku sempat hidup melihatnya, bawa aku ke sana…
aku ingin sekali lagi menarikan kematian dan dendam yang membusuk di
sepi-sepi rusukku. selamat datang malam…



lab komputer SWB, 1 Nopember 2009

Horizon, Senja dan Kenangan di Laut Itu

kuperas ombak kenangan itu dari bibirmu
lautanku, riak-riak rinduku yang biru, sebiru mata
pacarku yang kini tinggal masa lalu
pita-pita merah senja ini, ya, potret perasaan ini berada dalam
balutan amplop-amplop pasir yang merayap di perut pesisirmu yang
mendesah merayu

kutitipkan segenap bangkai, ampas perih hati ini agar
kau bawa larut, mengerut dalam gelombang liar yang membasuh akar-
akar kepahitan yang mencekik batang leher , berlayar
ya, berlayar melewati belenggu rasio yang memandangmu, laut biruku
sekadar nostalgia, sekadar cita-cita rendah atau sentimentalisme anak puber

dan aku bertanya, “apakah kapal-kapal itu berlayar dari masa lalu?”
malam datang dan geloranya masih sedingin yang dulu
cintamu membakarku di pantai ini, memaksaku terpaku bersama pasir, kelapa,
dan lengkung horizon yang tak lelah melahirkan kapal-kapal baru
dan betul juga asap-asap cerutu para pelaut memberi kelabu bagi segenap
pertemuan ini, pertemuan di antara bahasa dunia, dunia kita

ingin kuisi kekosongan ini dengan merah senja yang
melingkupimu, dengan pluit kapal, tirai cahaya mercusuar yang memanggilku pulang
dari khayalan tentang rinduan-rinduan hitam yang tak terkatakan
itupun seandainya kau tidak keberatan

aku tidak gila, tidak selama aku bicara padamu, lautku
tentang rayuan kita di pesisir ini, tentang kegelapan yang menjagaku di atas pasir ini
kegelapan bagaikan ibu, seperti cinta yang berkepak di riak-riak gelombangmu
dan, ah, betapa ingin aku menceritakan tentang dia padamu
menceritakanmu kepadanya
tentang mata kalian yang sama biru
tentang senyum kalian yang deras merayu
tapi itu hanya jika ia belum dingin beku, terbujur kaku di dasar perutmu

Laboratorium Komputer SWB, 2009

tes

coba kita lihat... berhasilkah?