1


Hanya kata sepatah dua patah, selintas tak perlu ditanggap hati. Sungguhpun tak berarti bukan berarti tak berisi. Penting atau tidak toh terlanjur tertulis,tak salah juga sedikit dinikmati.

..

Horizon, Senja dan Kenangan di Laut Itu

Jumat, 27 November 2009

kuperas ombak kenangan itu dari bibirmu
lautanku, riak-riak rinduku yang biru, sebiru mata
pacarku yang kini tinggal masa lalu
pita-pita merah senja ini, ya, potret perasaan ini berada dalam
balutan amplop-amplop pasir yang merayap di perut pesisirmu yang
mendesah merayu

kutitipkan segenap bangkai, ampas perih hati ini agar
kau bawa larut, mengerut dalam gelombang liar yang membasuh akar-
akar kepahitan yang mencekik batang leher , berlayar
ya, berlayar melewati belenggu rasio yang memandangmu, laut biruku
sekadar nostalgia, sekadar cita-cita rendah atau sentimentalisme anak puber

dan aku bertanya, “apakah kapal-kapal itu berlayar dari masa lalu?”
malam datang dan geloranya masih sedingin yang dulu
cintamu membakarku di pantai ini, memaksaku terpaku bersama pasir, kelapa,
dan lengkung horizon yang tak lelah melahirkan kapal-kapal baru
dan betul juga asap-asap cerutu para pelaut memberi kelabu bagi segenap
pertemuan ini, pertemuan di antara bahasa dunia, dunia kita

ingin kuisi kekosongan ini dengan merah senja yang
melingkupimu, dengan pluit kapal, tirai cahaya mercusuar yang memanggilku pulang
dari khayalan tentang rinduan-rinduan hitam yang tak terkatakan
itupun seandainya kau tidak keberatan

aku tidak gila, tidak selama aku bicara padamu, lautku
tentang rayuan kita di pesisir ini, tentang kegelapan yang menjagaku di atas pasir ini
kegelapan bagaikan ibu, seperti cinta yang berkepak di riak-riak gelombangmu
dan, ah, betapa ingin aku menceritakan tentang dia padamu
menceritakanmu kepadanya
tentang mata kalian yang sama biru
tentang senyum kalian yang deras merayu
tapi itu hanya jika ia belum dingin beku, terbujur kaku di dasar perutmu

Laboratorium Komputer SWB, 2009

0 komentar:

Posting Komentar