1


Hanya kata sepatah dua patah, selintas tak perlu ditanggap hati. Sungguhpun tak berarti bukan berarti tak berisi. Penting atau tidak toh terlanjur tertulis,tak salah juga sedikit dinikmati.

..

Keserakahan dan Kematian

Selasa, 20 Juli 2010

Suatu hari, Keserakahan dan Kematian berjalan-jalan di ladang dan lapangan milik Keserakahan. Mereka berdua melihat-lihat keadaan dan mengawasi ribuan budak yang bekerja bagai ternak di bawah pengawasan mandor. Kemudian Kematian mulai mengutarakan maksudnya.

"Berikan aku sepersepuluh dari budak-budakmu itu."

"Tidak akan. Sepersepuluh terlalu banyak. aku butuh mereka untuk membangun kerajaanku."

Mendengar itu, Sang Kematian beranjak ke sungai besar yang menjadi sumber air para budak, dan mencelupkan tongkatnya di sana. Ketika waktu istirahat tiba, ribuan budak berbondong-bondong untuk minum di sungai. Sekonyong-konyong mereka semua kejang, kemudian menggelinjang mati.

"Gila! Kenapa kau lakukan itu? Kau membunuh semua budakku!!" jerit Keserakahan.

Kematian menjawab enteng, "Karena kau tidak memberiku satu pun, aku mengambil semuanya."

Kubuatkan Kau Puisi

Senin, 19 Juli 2010

kubuatkan kau puisi
bukannya apa, bukan untuk apa-apa
tapi bawa saja
sekadar hiburan perjalanan
sekedar kenang-kenangan

sebab setelah ini
bayangmu semakin sulit kutemui.
karena aku tak tau kan kemana mencari
jadi ambil saja semua ini
semua hal yang sengaja kubuat tersembunyi
dari hela nafasmu
dari taburan tawamu
dari apa saja yang erat dengan manismu

bagai riak-riak perjalanan dan perasaan
yang tak sempat kukatakan
puisi ini
sepatah kenangku padamu
setitik kasihku yang memang
tak tahu mengarang lagu atau merayu

terlepas dari semua itu selama ini
kuterima saja semua tawamu. entah sebagai obat bius
atawa pelarian atawa apa saja semacamnya.
tetap saja kau berikan tanpa henti,
jadi anganku setiap malam
temani mimpi bersama rintik hujan.

dengan menyesal kuakui berulang kali
aku bukan orang suci.
dan karena kamu saja yang mengerti
dan menerima kenyataan ini, kubuatkan puisi ini.

meski sudah jauh nanti
senyumlah padaku sekali-sekali
yang masih mau mencari jalan kembali


19/07/10

Jangan Menangis Eleana

Minggu, 18 Juli 2010

Aku ingin menepiskan
semua kaca-kaca air mata
dari pelupuk matamu yang
biru. Bagaimanapun aku
tak berharap akan
bisa melihatmu, atau bertahan
bersamamu lebih dari yang
pantas kudapatkan.

Tak ada perlu menangis
atau ditangisi. Apalagi menangisi
aku. Eleana, kau bersamaku
lebih dari yang kau atau aku
tahu. Sekali lagi: jangan menangis.
Seandainya bisa, kuingin langit
menyisihkan air matanya malam
ini bagi kita, mengisi isak
dan pejam matamu yang tak boleh
kau suarakan.

Hentikanlah. Kau harus terbang pulang,
kembali ke dunia malam. Sementara
aku akan menghilang di ujung jalan
panjang. Namun yakinlah:
Kau tak akan pernah kulepaskan.

11/5/10

Warna dan Bayang-bayang

Kamis, 15 Juli 2010

apakah warna, Eleana?
semua orang mengatakan itu
seolah mereka memahaminya
seakan mereka melihatnya
bagaikan mereka menciptakannya

padahal kau - juga aku
tau bahwa yang kita lihat hanya
pantulan bayang-bayang.
fragmen yang disebarkan cahaya
pada mata manusia yang
hanya dapat menangkap keterbatasan.

aku tidak bisa melihat warnamu
bukan karena kau dalam bayang-bayang
namun karena kau bercahaya.
aku tidak tau apakah kemilaumu
adalah warna. aku nyaman dengan malam dan bayang.
dan apapun yang orang bilang tentang kita,
malam tetap menjadi milik kita.

hitam bukanlah warna. tapi aku tau
kita berdua menikmatinya.
kau tidak akan lama tinggal,
tapi kecupmu senantiasa menjadi bunga
dalam bayangku setiap malam

15 Juli 2010

Pekik Mati Seorang Demonstran

Selasa, 13 Juli 2010

Setelah semua berlalu
banyak kami mati
banyak hilang kami
tak kembali

tapi jangan pernah kau kira
kami akan pernah berhenti
bernyanyi
jangan pikir
kami akan tak kembali
tak akan pernah kami
hilang sembunyi

cukup lama lemakmu menekan kami
selesai!
dengan sisa darah di nadi dan serak hati
kami suarakan tangisan ini
dalam puisi
dalam nyanyi
untuk mengorek telingamu yang tuli!

tembaklah kalau mau tembak!
darah kami akan jadi kaligrafi
menulis sejarah
negara ini
jerit kami akan dinyanyikan
ke langit
air mata negeri semayamkan kami
dan semangat kami akan masuk ke bumi
menjadi pilar-pilar
menjadi tunas-tunas bendera

tak dapat meriam airmu tenggelamkan kami
tidak juga kerusuhan yang
kamu reka-reka sendiri
kerikil kami akan masuk ke roda-roda pansermu
dan nyanyian kami jadi karat pada pelurumu

air mata
dua ratus juta di belakang kami
menjadi ombak pada perjuangan ini!
dua ratus juta
lebih dari cukup gantikan kematian kami.

pada saatnya nanti
kan kami kumandangkan dari istanamu
Indonesia Raya dalam damai hati!
AYO!