1


Hanya kata sepatah dua patah, selintas tak perlu ditanggap hati. Sungguhpun tak berarti bukan berarti tak berisi. Penting atau tidak toh terlanjur tertulis,tak salah juga sedikit dinikmati.

..

Kata-kata Kita

Minggu, 29 November 2009

kata-kata tua kita meruang dalam kegelapan
melepuh dalam kesunyian
terbakar karena kedinginan syahdu yang
menitik turun dalam embun yang lelah
berat mata, sepi dada

baris-baris kita bersusun dalam sajak
dalam kutipan berkarat yang jengah
lelah , diungkit kata-kata putus asa

malam yang berjapi, sunyi ngeri yang
menyanyikan itu padaku
tentang kata-katamu yang mematung bisu
di ruang hujan, di basah topan
meliuk, meggulung haru, ya, haru kita

ai, ai, ai... kita berlepas asa bersama
berloncatan di ufuk embun
melepas hati, melepas peduli
persetan masa depan, segala taik kucing ramalan

kiamatkah hari ini, besok atau kapan
lagi waktu dieja?
yang bersuara di sini: KITA
hanya kita, selamanya?
semoga...

Body Painting






Seni adalah jiwa. Tinggal dari mana kita melihatnya.

Kekalahan Mimpi

Jumat, 27 November 2009

sedianya kita hanya terus berharap, berharap, berharap
meski pada akhirnya kita hanya berlari, mengejang dan mati
kita tetap harus ikhlas pada ombak menyengat
yang kita namai: kesakitan

dalam baris dan sajak, perumpamaan dan pikiran
kekalahan selalu menghanguskan, meninggalkan
gurun-gurun tak terperi, memangsa manusia yang berkarat di dalamnya

kita selalu bertanya: tak dapatkah kau bawa aku ke atas, duhai malam?
hanya rembulan dan mimpi bintang-bintang yang tahu
menerjemahkan pekikan malang
merintih, menangis, membisu dalam kebekuan waktu
yang kau guratkan senja itu

kita terlampau lelap untuk bangkit bersama angin
mengembun dalam dingin, mencair dalam hujan
ah! hanya tuhan yang paham bagaimana bagaimana mengawinkan
kesakitan manusia dengan perih dan duka sang alam

aku ingin tahu apa kau masih menggebu menemaniku
aku masih di sini, senantiasa di sini menantikan tawamu terpicu
dalam khayalku. ayo. aku ingin kita berhenti mendengkur dan mengumpat tangis
dalam lipatan tangan yang berbisa. ku akan membawamu
melompati malam, menyulam sayang yang tak pernah kau selesaikan. kita.

lab computer SWB, 9 Nopember 2009

Menantikan Remuk

pada usia kita yang terus lanjut cerita tentang dunia yang keji tak terperi
belum juga tamat. kita memikirkan itu sampai muak, sampai
mengendap segala tumpah gelisah dan amarah yang payah, yang membusuk
tak keruan seperti bangkai besar yang dimangsa kematian tak terkira

waktu membuat kita mengeras, sebagaimana peperangan hanya menyanyikan kematian
dan tangisan. peluru dan mesiu yang bisu bersarang di pupil matamu. bagaimana kita
tahu cara mengeja keabadian? bumi mengandung kemarahan di hari tuanya. kandungannya
mengerang, memuntahkan maut berbisa dan darah yang menggeliat. menggeliat!

kesakitan diolah setiap hari. duka dimasak setiap pagi. kematian menjadi akhir sebuah janji.
ingatkah kamu yang kita catat di buku sekolah tempo dulu?
sejarah tak dapat mati dan berganti, namun ia dinodai setiap kali.

katakan. bagaimana nanti tuhan akan meremuk kita karena memperkosa bumi,
membunuh malaikat, menetas ajal panjang tiada penghabisan?
kamu belum melihatnya, langit menjadi beracun, hujan mendendam
dan bumi yang kita injak-injak menerkam habis raja para binatang: manusia

kalau aku sempat hidup melihatnya, bawa aku ke sana…
aku ingin sekali lagi menarikan kematian dan dendam yang membusuk di
sepi-sepi rusukku. selamat datang malam…



lab komputer SWB, 1 Nopember 2009

Horizon, Senja dan Kenangan di Laut Itu

kuperas ombak kenangan itu dari bibirmu
lautanku, riak-riak rinduku yang biru, sebiru mata
pacarku yang kini tinggal masa lalu
pita-pita merah senja ini, ya, potret perasaan ini berada dalam
balutan amplop-amplop pasir yang merayap di perut pesisirmu yang
mendesah merayu

kutitipkan segenap bangkai, ampas perih hati ini agar
kau bawa larut, mengerut dalam gelombang liar yang membasuh akar-
akar kepahitan yang mencekik batang leher , berlayar
ya, berlayar melewati belenggu rasio yang memandangmu, laut biruku
sekadar nostalgia, sekadar cita-cita rendah atau sentimentalisme anak puber

dan aku bertanya, “apakah kapal-kapal itu berlayar dari masa lalu?”
malam datang dan geloranya masih sedingin yang dulu
cintamu membakarku di pantai ini, memaksaku terpaku bersama pasir, kelapa,
dan lengkung horizon yang tak lelah melahirkan kapal-kapal baru
dan betul juga asap-asap cerutu para pelaut memberi kelabu bagi segenap
pertemuan ini, pertemuan di antara bahasa dunia, dunia kita

ingin kuisi kekosongan ini dengan merah senja yang
melingkupimu, dengan pluit kapal, tirai cahaya mercusuar yang memanggilku pulang
dari khayalan tentang rinduan-rinduan hitam yang tak terkatakan
itupun seandainya kau tidak keberatan

aku tidak gila, tidak selama aku bicara padamu, lautku
tentang rayuan kita di pesisir ini, tentang kegelapan yang menjagaku di atas pasir ini
kegelapan bagaikan ibu, seperti cinta yang berkepak di riak-riak gelombangmu
dan, ah, betapa ingin aku menceritakan tentang dia padamu
menceritakanmu kepadanya
tentang mata kalian yang sama biru
tentang senyum kalian yang deras merayu
tapi itu hanya jika ia belum dingin beku, terbujur kaku di dasar perutmu

Laboratorium Komputer SWB, 2009

tes

coba kita lihat... berhasilkah?