1


Hanya kata sepatah dua patah, selintas tak perlu ditanggap hati. Sungguhpun tak berarti bukan berarti tak berisi. Penting atau tidak toh terlanjur tertulis,tak salah juga sedikit dinikmati.

..

Spider-Man: Web of Shadows

Minggu, 03 Januari 2010


Yak, sekali waktu kami para seminaris pun harus liburan. Nah, dalam kesempatan liburan saya kali ini saya memainkan game yang amat sangat menarik, judulnya Spider-Man: Web of Shadows. Ceritanya tentang kota New York yang mengalami krisis akibat Venom dan simbiosisnya yang menjadi liar dan menginfeksi warga. Sudah tentu jagoan kita Spidey ambil bagian dan beraksi dalam krisis ini. Dalam pertempuran sengit melawan Venom, Webhead malah terkena simbiosis dan akhirnya memiliki kostum simbiosisnya sendiri yang berbeda dan terpisah dengan Venom. Sekarang Spidey memiliki kekuatan dan kemampuan yang luar biasa akibat kostum hitam tersebut. Tetapi, Venom tidak bisa dihentikan dengan mudah. Akibat tindakannya menginfeksi warga, sebagian besar Manhattan terpaksa dijadikan zona isolasi dan warga dievakuasi sebisa mungkin. Simbiosis menjalar dan tumbuh di gedung-gedung pencakar langit seperti pohon-pohon raksasa dan menginfeksi baik teman maupun musuh Spidey. Spidey yang berupaya mati-matian dalam mengatasi krisis ini malah nyaris kehilangan Mary Jane dan jati dirinya sendiri yang mulai dikaburkan kostum simbiosis tersebut. Tertekan dari segala arah, Spidey memutuskan untuk mengakhiri semuanya ini dengan langsung merangsek pokok permasalahan: Venom. Berhasilkah ia melakukan tersebut? Yaa... tentu saja ini tergantung siapa yang main. Namanya juga game. Namun, saya memandang ini lebih dari sekedar game. Ada hal yang berhasil saya dapatkan dan refleksikan di sini. Spidey memang jagoan, tapi bagi saya superhero yang paling manusiawi. Ia mendapatkan kekuatan baru dan sesaat merasa di atas angin dengan kekuatan itu, tanpa tahu bayarannya. Yang saya soroti di sini adalah bahwa manusia sendiri sering takabur dengan kekuatan atau apapun yang baru ia dapat. Kekuatan memang ada, tapi apa gunanya itu semua kalau kita tidak bisa menjaga apa yang benar-benar menjadi prioritas dan malahan mabuk dengan kemampuan kita? Kalimat yang saya sukai dari game ini adalah,"You can't know what control really means until you lose it." Bukankah ini yang sebenarnya terjadi pada manusia? Saya harap kita manusia mulai memikirkan kemampuan kita disertai cara untuk mengontrolnya... Melihat apa terjadi dewasa ini manusia harus lebih sadar akan hal itu...

0 komentar:

Posting Komentar