1


Hanya kata sepatah dua patah, selintas tak perlu ditanggap hati. Sungguhpun tak berarti bukan berarti tak berisi. Penting atau tidak toh terlanjur tertulis,tak salah juga sedikit dinikmati.

..

Kegelapan: Senandung dan Doa

Sabtu, 16 Januari 2010

Eleana bertanya padaku:
"kau suka bernyanyi, Asta?"
"tidak. tapi senandungmu lebih terdengar seperti doa bagiku.
kalau kau mau aku akan menemanimu berdoa malam ini."
ia tidak suka aku menebak apa yang ada di
balik tirai matanya terlalu cepat. desir geleng kepalanya.
sudut kerut bibirnya yang pilu. mata cokelatnya yang beku
dan basah. lebih dari suatu pertanda malang bagiku.
sementara itu bulan sabit mengawasi kami dari sudut-sudut bisu.

"malam ini akan segera berakhir.
masa' kau tidak mau menyanyikan satu lagu untukku?"
"aku kenal malam ini juga matinya senja sore tadi.
ia masih akan menemani kita lebih lama dari yang kau
bayangkan. dan aku juga tahu malam di hatimu pun juga
tak pernah lewat. tidak secepat itu."

aku tahu.
aku selalu tahu kalau Eleana membenci matahari
sama seperti aku membencinya. matahari tak
meberi ruang bagi kami untuk bercerita.
tak ada pagi dengan kata-kata.
dunia tanpa nada terlalu seram untuk
kami tinggali. aku hanya bisa menampung
air matanya pada puisi-puisiku. puisi yang penuh
kata-kata patah tentang ketiadaan dan kematian.

"kau tahu lebih banyak dari yang kuduga."
"aku hanya mengatakan padamu hal-hal
yang tertulis pada malam yang sama di hatiku.
bau kecupanmu yang penuh kesengsaraan.
lekuk tubuhmu yang tak pernah beranjak dariku.
dan lintang leherku yang serapuh senyummu.
juga semua hal lain yang kau torehkan perlahan di muka jiwaku,
ya, semua kehilangan itu."

"bau kematian menyeruak, menghapiriku...,"isaknya.
"tidak hanya kau. aku sudah merasakan nafasnya di leherku sejak tadi.
kita berdua ditakdirkan lenyap, moksha menjadi serpihan jiwa-jiwa.
hanya debu-debu tak terkira di gurat-gurat malam dan cakrawala"
"kemarilah. maukah kau bersenandung menyertai doa-doaku?"
"............. bawa ini, ini puisiku... untukmu..."


"lantas apa lagi yang dikatakan malammu padamu?"
"kita tidak bisa segera pulang. maafkan aku..."



16 Januari 2010
di warnet

0 komentar:

Posting Komentar