1


Hanya kata sepatah dua patah, selintas tak perlu ditanggap hati. Sungguhpun tak berarti bukan berarti tak berisi. Penting atau tidak toh terlanjur tertulis,tak salah juga sedikit dinikmati.

..

Perang: Manusia dan Kematian Nuraninya

Rabu, 13 Januari 2010

Sejak zaman dahulu kemanusiaan adalah hal tertinggi, mungkin juga hal terakhir yang bisa kita agungkan untuk membedakan diri dengan binatang. Manusia melahirkan pengetahuan. manusia meneliti semesta alam. Manusia menciptakan tata dunia dan teknologi. Manusia adalah kemajuan. Dan pada akhirnya manusia menamakan diri mereka: kemuliaan. Lantas bagaimana mereka mengakhirinya?

Kemuliaan dan kehormatan adalah hal yang dikejar semua orang dengan berbagai cara dan upaya. Dan satu-satunya cara tercepat untuk meraih semuanya itu adalah dengan kekuatan. Bagaimana caranya mamiliki kekuatan itu? Kekuatan diraih dengan dominasi dan agresi. Ketidakmampuan manusia untuk berkata "cukup" telah membawa manusia sampai pada titik terendah kedudukan mereka: kematian akal budi dan hati nurani.

Homo homini lupus. Manusia adalah serigala bagi sesamanya. Dari semua makhluk ciptaan Tuhan, hanya manusia yang saling membinasakan sesamanya. Nafsu untuk mendominasi akhirnya menyeret seluruh dunia ke dalam medan perang yang diciptakan sendiri oleh manusia. Kekuatan yang mereka cari akhirnya hanya menjadi insting binatang yang saling mengoyak dan membinasakan. Perang adalah jawaban dari semua nafsu kemuliaan manusia ini. Manusia hanya terbakar dalam api yang mereka sulut sendiri.

Ilmu pengetahuan berkembang menjadi senjata. Coba kita lihat berapa jenis panser dan senapan yang dikembangkan Hitler selama konflik Perang Dunia II. Berapakah tipe senapan otomatis yang digunakan dan dikembangkan selama perang tersebut? Atau lupakah kita kalau rata-rata negara mengembangkan teknologi persenjataan di bawah pengawasan negara, dengan budget yangbisa memberi makan jutaan rakyatnya? Bukankah semua pengeluaran selama Perang Irak bisa digunakan untuk kesejahteraan rakyat masing-masing negara? Semangat pada diri setiap orang dimanipulasi untuk saling cakar dan cabik antar sesama. Bedanya manusia tidak menggunakan cara-cara konvensional binatang yang menggunakan taring atau cakar. Mereka saling cakar dan cabik dengan gas beracun, mortir dan panser. Mereka tidak ubahnya dari binatang-binatang berteknologi yang sudah tahu cara menekan picu senjata.

Kesakitan manusia yang kalah memaksa mereka untuk memanipulasi mereka yang lebih lemah lagi. Tidak jarang mereka yang tertekan dan kurang sumber daya pertempuran menggunakan wanita dan anak-anak untuk menambal kekeroposan kekuatan. Yang kuat menindas yang lemah. Yang lemah meremuk mereka yang lebih lemah. Begitu seterusnya.

Banyak di antara anak-anak ini kehilangan masa kecil mereka untuk berlatih meletup bedil tepat sasaran. Sinar di mata mereka menyiratkan "semangat" yang dihasilkan dari didikan para pendahulunya. Mereka mengubur (atau lebih tepatnya dikubur) masa depannya dalam api pertempuran dan kesakitan konflik pendahulu mereka. Tak ada bangku sekolah. Tidak ada sepak bola. Tidak ada ulangan atau PR yang mengisi waktu senggang. Yang ada adalah kesiapan untuk membunuh dan dibunuh setiap saat, bagaimana mereka berjalan tanpa menginjak ranjau atau berlari tanpa tertembak.

Pada akhirnya, inikah akhir dari nafsu berkepanjangan ini? Semua kesakitan dan penderitaan inikah yang membuktikan kalau kita manusia ? Dengan apakah sebenarnya kita memaknai kehidupan kita? Bukankah kalau seperti ini kita hanya mengisi kesakitan-kesakitan yang baru dari generasi ke generasi, secara turun temurun? Apakah ilmu pengetahuan, yang selama ini kita cari dan kita gembar-gemborkan demi kemajuan dan kelayakan hidup, malah membuat kita semakin merealisasikan nafsu kebinatangan kita, lebih dari binatang itu sendiri? Pertanyaan ini tidak akan saya jawab. Saya hanya ingin merefleksikan apa yang telah berhasil dicapai dalam peradaban yang katanya semakin maju dan intelek. Semuanya itu membuat kita lupa kalau ilmu pengetahuan yang kita dewakan selama ini tidak digunakan sekadar untuk kenikmatan dan kemajuan. Kenyataannya untuk mencapai semua itu kita menginjak-injak harga diri kita sebagai manusia.







0 komentar:

Posting Komentar