1


Hanya kata sepatah dua patah, selintas tak perlu ditanggap hati. Sungguhpun tak berarti bukan berarti tak berisi. Penting atau tidak toh terlanjur tertulis,tak salah juga sedikit dinikmati.

..

Bung

Rabu, 17 Agustus 2011

Bung,

betapa hari ini negaramu melangkah lagi
dengan jas tuanya, mengulang hari jadinya
yang semakin lama makin membuatnya lelah
enam puluh enam dan dia masih tinggal rapuh,
tersenggal dan batuk

Bung, segala selenggara seremoni ini
tak menyembuhkan negaramu,
cintamu, yang bahkan kau dekap
saat melangkah ke liang kubur

Bung
pemimpin kami tuli
pada gema suara terbatuk
dan rintih orang tercekik.
dekil terseok debu
dibuatnya kami menari
sampai gila dengan irama buat-buatan
mereka

ooo
Bung
teringat kami akan cerita kependekaranmu
yang diasingkan karena bicara
yang mati karena bendera
yang darahnya diratapi Garuda

Bung
sepi malam di langit yang kau wariskan
kami merindu bayangmu
juga malu karena tak mampu menjawab harapmu
tak mampu mengingat sejarahmu
tak pelajari petuahmu

kami naikkan bendera
dan kami bubar, biarkan ia berkibar
sendiri
tersaput debu dan ternista waktu

Bung
manakah yang lebih kau sesalkan
wafat meninggalkan negaramu setelah merebutnya kembali
atau mewariskannya pada kami ?

Garudamu terluka dan patah
merah putihmu benar-benar berlumur darah dan retak tulangnya
kami mencintanya
namun tak sanggup menangisinya

tapi pagi ini, kami mengibarkannya
dan tetap berdoa
agar jangan sampai mereka, keparat itu, menjualnya
bersama-sama dengan harga diri dan mimpi-mimpi

17 Agustus 2011


0 komentar:

Posting Komentar