1


Hanya kata sepatah dua patah, selintas tak perlu ditanggap hati. Sungguhpun tak berarti bukan berarti tak berisi. Penting atau tidak toh terlanjur tertulis,tak salah juga sedikit dinikmati.

..

Sebelum Kita Menjadi Tua

Jumat, 25 Maret 2011

sebelum kita menjadi tua, ingin kubicarakan lagi
denganmu, cita-cita itu. yang kulukis bersamamu di
di sepinya langit dengan tawa dan gelegak antusias yang kita
tumpahkan bagai lukisan.

Ingin kulagukan harapan ini, sekali lagi
sebelum kita menjadi tua. agar kamu tak kelak lupa kalau
kita pernah berbicara, berceloteh deras lebih dari sekadar
idealisme. lebih dari sekadar tak pasti yang tinggal gurau belaka.

Kupuisikan tentang jalan yang kau pilih. tentang langkahku yang memberat
dan kian terluka. tak mampu mengejarmu karena langitku menderas,
napasku berhamburan bergelimpangan.
tak mampu lagi mengejarmu,
bersanding dengan gelak tawamu yang menjadi penghiburan seumur hidupku.

betapa malam, kutunggu kamu
menanti kesempatan membacakan puisi ini padamu
meneriakannya ke langit biru.
agar kamu tahu aku masih mengingat warna yang kau lukis
bersamaku.

kini hanya sepi menghiasi tembok-tembok kotaku.
di jalan-jalan, kulihat lukisan.
di dinding-dinding, warna-warna dan pola mendiami.
namun bukan lukisanmu, bukan warna matamu yang
kau torehkan, membentuk puisi-puisi yang kau lukis
di ingatanku.

betapa puisi ini untukmu
adalah tanda bahwa sampai hari ini,
aku belum bosan melukis wajahmu.

Sampaikan Pada Hujan

Minggu, 06 Maret 2011

sampaikan pada hujan, kali ini aku tak akan
menunggunya datang.
setelah tinta-tinta puisiku mengering dan bisu
aku tidak lagi butuh dirinya untuk mendiskusikan prosaku

pada kertasku, tetap halaman putih.
yang basah oleh hujan yang berusaha meresapi baris-barisnya.

biarlah, toh saat aku pergi -- setiap saat aku ingin lari,
kau tetap mengiringi. menjadi dingin yang membasah kain sepatu
menjadi rayu yang menghibur lalu
dalam sepi ini

Laki-laki Itu

Rabu, 02 Februari 2011

Laki-laki itu bicara dengan hujan.
sudah berjam-jam ia duduk dan berkomat-
kamit pada derai langit yang menelusup pori-pori,
membasahi matanya yang tak awas lagi.

perjalanan tak membuatnya lelah
meski ia jadi merasa tua seketika.
luka-lukanya tak membuatnya lemah.
namun tak jarang ia berkesah pada tetes darah
yang mewarnai jejaknya.

sampai di mana kini?
pengembaraan membawanya ke nadi-nadi bumi.
ke jantung laut, ke perut neraka.
di mescusuar-mercusuar.
di menara-menara kota.
di toko-toko senjata.
di medan-medan laga.

tapi tak sekalipun ia merasa sampai di mana-mana.
ke mana pun ia pergi hujan selalu tampak sama,
seperti hujan yang ia ajak bercengkerama
sore ini.
matahari tetap sama warna.
senja tak berhenti membara.
dan manusia tak berhenti nestapa.

mungkin esok, lusa, dan waktu yang akan datang
perjalanan akan berakhir.
tapi tidak hari ini, bukan kali ini.
"selama matahari masih menyinari,
dan langit menaungi kepala ini,
jasadku menolak untuk berhenti."


Februari 2011

Kapiten

Jumat, 28 Januari 2011

Kapiten, lelaki sejati duduk sendiri dinaung sepi
apa entah isi hatinya, menelan masa lalu
meresah apa seakan tersenyum sendiri
mengeluhkan apa pada dinding retak kamarmu

lumpur medan laga beribu di bawah kakimu
musuh macam apa jua berlutut padamu
kakimu tegak berlari menerjang, menjagal
dadamu terpasang bintang-bintang, dan luka-luka peluru
kini menunggu waktu berlalu di jendela kamarmu

ditinggalkan laskar yang kau pimpin
dibuang atasan yang kau abdi
meski bukan karena durhaka

medan laga memujamu
namun dunia tak siap memilikimu
lantaran terlampau perkasa engkau bagi mereka.
dibuang benteng yang kau lindungi
bagaimana rasanya?

semoga kuat hatimu menyaksikan
laskarmu berlari setiap pagi dari jendela.
yang tersisa untukmu, bendera itu
dan sekadar cerita masa lalu

Kapiten, menutup buku catatannya
mengubur semua medalinya dan
mengisi peluru lagi
lalu pergi ke medan laga yang baru
sendiri

Lukisan Wajahmu

terpejam aku membayangkan wajah itu
erat tercekat di dada tapi tetap tak bisa hilang
buailah dalam malam, jadilah inspirasi, sesaat pun tak apa
aku ingin melukismu, wajah tanpa warna itu

pada garis rintik tinta ini, tersenyumlah
jadikan aku berdegup menggores nafasmu
melukis langit yang terpancar di wajahmu,
gugus-gugus bintang pada matamu biru

jangan pergi sebelum pagi
jangan beranjak sebelum kuselesaikan
wajahmu yang mengandung malam ini
yang mengalunkan sinfoni sunyi sepi
yang selalu jauh dari damai hati

setelah kuselesaikan ini, simpanlah
jangan angap ini semacam tanda cinta
tapi bawalah sebagai hadiah menemaniku
malam ini

Sketsa Andes

Selasa, 18 Januari 2011

Saya sudah lama sekali gak pernah ngepost di sini lagi. Saya gak mau ngeles, tapi ya emang ada sebabnya. Antara lain karena sekarang saya jarang dapat ilham untuk menulis dan ngepost gambar. Gak tau juga, tapi memang sekarang isi kepala saya lebih tenang. TERLALU tenang malahan, sampai belum ada lagi inspirasi untuk menulis atau niat untuk ngepost gambar. Mungkin sebenarnya yang membuat orang jadi niat berkarya itu justru karena adanya gejolak. Kalau hidup terlalu tenang malahan jadi tumpul hati dan pikirannya. Bener gak sih? Nggak ya? Ya udah. Okelah, kalau kepanjangan nanti jadi ngeles, jadi sebaiknya saya ngepos dulu gambar teman saya Andes ini. Gambar ini mengawali minat saya untuk menggambar wajah teman-teman saya. Sebelum ini sebenarnya juga ada, tapi gak pernah discan karena langsung dikasih orang. Yang lain nanti menyusul.

Helaan Ombak

Selasa, 09 November 2010

kutarikan puisiku dengan keriap buih
pada gerai gelombang dan lilitannya pada karang
dengan debur nadiku, getarku
juga kata-kata yang kian menghempas
dan redam, karena hanya mampu kupuisikan
sendirian

kata yang kugerakkan
gema yang kulepaskan di dada, di dalam nyawa
sampaikah?
jadilah penghiburan, biar hanya sekelebatan
biar bagaimana , tak ada yang menandingi sakitnya
berlayar sendirian.

jawablah
biar hanya sepatah
tanpa kata atau petikan nada
cukup bagikan bayangmu, refleksimu setiap malam
menjadi rona bagi tubuhku, gelombangku
yang biru dan bisu
sebagai jawaban semua puisiku selama ini
yang hanya kembali ke telingaku

-2010-