1


Hanya kata sepatah dua patah, selintas tak perlu ditanggap hati. Sungguhpun tak berarti bukan berarti tak berisi. Penting atau tidak toh terlanjur tertulis,tak salah juga sedikit dinikmati.

..

Anjing

Rabu, 10 Agustus 2011

aku berkaca sekali lagi dan memastikan
anjing yang sama masih
menatap keji dari dalam cermin.

wajahnya luka dan matanya buta
namun melankoli meski tak menyembunyikan
taringnya. seperti kasihan ia, pada manusia yang tak
tahu kalau sudah lama kehilangan wajah
untuk dipandang di dalam cermin

dari ufuk terdengar syahdu
doa-doa terbaca. bercampur dengan gonggongan
dan pekik orang mati tercekik.
sekali lagi ia menatapku dengan matanya
yang buta, penuh ironi, karena aku tak punya
cukup alasan untuk lari.

binatang itu terbatuk sekali
memuntahkan sesuatu yang seperti sisa makanannya
tadi pagi. ia menyeringai seperti mau berbagi
pada manusia yang sudah lama kehilangan
alasan keinginan untuk makan.

akhirnya, karena aku tak punya wajah
untuk kuekspresikan padanya,
ia menggonggong pada makluk malang itu
dan lari menuju matahari terbenam,
meninggalkan aku yang retak dan kosong,
berserakan di atas tumpukan bankai
lainnya

11 Agustus 2011




sisa-sisa I

Jumat, 10 Juni 2011

puisiku untuk dunia

bagai benang yang dicabik angin,
tak mamou sembunyikan sakitnya,
kata-kata itu tetap tak terdiam

biar pada dunia yang tanpa
cinta, kunyanyikan senandung
manusia yang luka
di ambang binasa

betapapun cinta tak ada, tetap saja
tak bosan kutuliskan

betapapun puisi ini akan kulupa
tetap enggan kulepaskan

sebab sebenarnya aku bingung mau menulis apa.
sekali-sekali aku tak menulis tentangmu


Juni 2011

Rabu, 20 April 2011

tak tau aku apa boleh aku legar menyala
bepacu deru, telusup awan dan pijar matahari
tekuk gunung-gunung, ratakan bukit jurang-jurang
berlari-lari berapi, tidakkah kan ku kehilangan
detak jantung meriam, cepat atau lambat?

kalau ku bersabar menulis puisi
setiap nadanya, tintanya, pada biji-biji gugur hujan
pada daunan yang lelah
kalau ku duduk tertekuk mencumbui tanah
dan lumut, dapatkah kutemui cinta dan pelepas air mata

tak sanggup ku membayang sepi
tanpa tawa dan puisi, atau bumi berhenti
tanpa ku berlari dan berapi
mendetak meriam yang kuletup
karena ingin menyerbu pertarungan!

April 2011

Kelakuan... kelakuan....

Selasa, 12 April 2011

Pules bot...


Wah, ini makan Hot Dog beneran nih...



Walah, kalo ini mah beneran kacau...

Sebelum Kita Menjadi Tua

Jumat, 25 Maret 2011

sebelum kita menjadi tua, ingin kubicarakan lagi
denganmu, cita-cita itu. yang kulukis bersamamu di
di sepinya langit dengan tawa dan gelegak antusias yang kita
tumpahkan bagai lukisan.

Ingin kulagukan harapan ini, sekali lagi
sebelum kita menjadi tua. agar kamu tak kelak lupa kalau
kita pernah berbicara, berceloteh deras lebih dari sekadar
idealisme. lebih dari sekadar tak pasti yang tinggal gurau belaka.

Kupuisikan tentang jalan yang kau pilih. tentang langkahku yang memberat
dan kian terluka. tak mampu mengejarmu karena langitku menderas,
napasku berhamburan bergelimpangan.
tak mampu lagi mengejarmu,
bersanding dengan gelak tawamu yang menjadi penghiburan seumur hidupku.

betapa malam, kutunggu kamu
menanti kesempatan membacakan puisi ini padamu
meneriakannya ke langit biru.
agar kamu tahu aku masih mengingat warna yang kau lukis
bersamaku.

kini hanya sepi menghiasi tembok-tembok kotaku.
di jalan-jalan, kulihat lukisan.
di dinding-dinding, warna-warna dan pola mendiami.
namun bukan lukisanmu, bukan warna matamu yang
kau torehkan, membentuk puisi-puisi yang kau lukis
di ingatanku.

betapa puisi ini untukmu
adalah tanda bahwa sampai hari ini,
aku belum bosan melukis wajahmu.

Sampaikan Pada Hujan

Minggu, 06 Maret 2011

sampaikan pada hujan, kali ini aku tak akan
menunggunya datang.
setelah tinta-tinta puisiku mengering dan bisu
aku tidak lagi butuh dirinya untuk mendiskusikan prosaku

pada kertasku, tetap halaman putih.
yang basah oleh hujan yang berusaha meresapi baris-barisnya.

biarlah, toh saat aku pergi -- setiap saat aku ingin lari,
kau tetap mengiringi. menjadi dingin yang membasah kain sepatu
menjadi rayu yang menghibur lalu
dalam sepi ini

Laki-laki Itu

Rabu, 02 Februari 2011

Laki-laki itu bicara dengan hujan.
sudah berjam-jam ia duduk dan berkomat-
kamit pada derai langit yang menelusup pori-pori,
membasahi matanya yang tak awas lagi.

perjalanan tak membuatnya lelah
meski ia jadi merasa tua seketika.
luka-lukanya tak membuatnya lemah.
namun tak jarang ia berkesah pada tetes darah
yang mewarnai jejaknya.

sampai di mana kini?
pengembaraan membawanya ke nadi-nadi bumi.
ke jantung laut, ke perut neraka.
di mescusuar-mercusuar.
di menara-menara kota.
di toko-toko senjata.
di medan-medan laga.

tapi tak sekalipun ia merasa sampai di mana-mana.
ke mana pun ia pergi hujan selalu tampak sama,
seperti hujan yang ia ajak bercengkerama
sore ini.
matahari tetap sama warna.
senja tak berhenti membara.
dan manusia tak berhenti nestapa.

mungkin esok, lusa, dan waktu yang akan datang
perjalanan akan berakhir.
tapi tidak hari ini, bukan kali ini.
"selama matahari masih menyinari,
dan langit menaungi kepala ini,
jasadku menolak untuk berhenti."


Februari 2011